[3039]
ApeL pagi menjadi sedikit berantakan karena hujan tibatiba jatuh dari Langit. Beberapa orang mencari tempat berteduh sementara apeL beLum dibubarkan, termasuk diriku yang berada di barisan paLing beLakang karena terLambat datang.
Hujan yang mengguyur tipis membuat JaLanan basah dan Licin. Kubawa d’Jouw mampir ke kost untuk mengambiL bekaL perangku. Parkir di depan gerbang, LaLu aku masuk dan naik ke kamarku, masih bersama heLm buLuk punyaku. Heran, tak biasanya habis makan soto maLah jadi rada LingLung (baca: rada nggLiyeng). HeLm murahanku terasa seberat heLm setengah juta. Tapi aku maLas meLepasnya karena hanya butuh kurang dari Liyma menit untuk mengambiL tas di kamar.
Aku siap berangkat Lengkap dengan jaket hitam hibah kantor dan kaos tangan rajutan warnawarni sebagai penghaLang (bertambah) hitamnya kuLit tanganku. Aku meLaju dengan santai karena tak keburu dengan waktu. JaLanan tidak begitu ramai, namun suasananya tidak nyaman, mungkin karena aku terbiasa berangkat di pagi hari. Sampai di beLokan itu, aku tambah sedikit (hanya sedikit) kecepatan d’Jouw. Aku bermaksud untuk mendahuLui sebuah pick-up pengangkut pompa air karena posisinya yg nanggung. Tapi tibatiba dia nyaLakan sign kanan dan memotong jaLurku. Sontak aku begoyang ke kanan (bahasa kerennya: banting stir) dan maLangnya, LagiLagi kaki d’Jouw terpeLeset. KaLi ini penyebabnya aspaL basah.
Bruuukkk!!!
LagiLagi jatuh ambruk kearah kanan, tapi kaLi ini Lebih ringan, hanya Lecet dan Lebam yang tak seberapa. Tapi maLunya bukan main. Kakiku kecantoL d’Jouw, dan badanku ketimpa badan d’Jouw. Aku tak bisa bangun dan hanya bisa meringkih “Adauw… adauw… adauw…”. Ada duwa orang yang menoLong, bapakbapak sepuh semua. Satuw dari mereka membatu membangunkan d’Jouw dan menuntunnya ke pinggir jaLan. Mereka menoLongku sambiL menanyaiku, “Mboten noponopo Mbak? Ngantosantos Mbak!” dan seperti sebeLumnya, para penoLong itu memberi saran padaku untuk istirahat duLu. “Mboten noponopo kok Pak, matur nuwun sanget… ehuehehehe” jawabku singkat sambiL menyunggingkan sedikit senyum untuk meyakinkan mereka bahwa I’m OK!
Aku periksa uLir gas d’Jouw, sebut saja beLajar dari kejadian sebeLumnya. ALHAMDULILLAH normaL, LaLu aku pamit pada bapakbapak sepuh penoLongku dan kususuri dengan peLan jaLanan di depan Pasar Jowo. LaLu ada seorang pemuda dari arah depan menghampiriku dan menanyakan kondisiku. Pertamanya heran juga, karena jaraknya tak begitu dekat dengan Lokasi jatuhku. O o o ternyata dia saLah satu pengemudi pick-up tadi. Dia bertanya padaku, “Gimana Mbak? Nggak papa to? Tadi kesrempet nggak to?” aku jawab singkat ajah, “Nggak papa kok Mas… Nggak papa!”, meskipun sebenarnya aku ingin biLang: Lain kaLi jangan bikin kaget dan ngambiL jaLur orang, apaLagi ke sebeLah kanan. Spion jangan cumak ditempeL!!! Tapi sudahLah, toh aku nda keserempet, cuman kaget trus ambruk. ![]()
Aku Lajukan d’Jouw ke tanjakan yang menuju medan perangku sambiL meringis menahan maLu juga sakit. Eh Lho… Lho… Lho… kok aneh niy… d’Jouw kok jaLannya mencengmenceng. Etapi jangan saLah sangka, bukan karena aku mabok habis jatoh Lho, ternyata tangan d’Jouw bengkong. Huuu… huuu… huuu… jadi tambah peLan dech meLajukannya. Sampai di ujung bukit, aku sengaja berbeLok duLu ke kamar mandi untuk membersihkan bagian bawah baju putihku yang menghitam karena mencium aspaL berair. Wuach giLak!!! Pantes ajah bapakbapak sepuh tadi menyangka kondisiku parah. Pasti karena meLihatbajuku yang berubah dari putih menjadi hitam. Masih dengan bagian baju yang basah di bagian bawahnya, aku menuju ke mejaku dan Langsung merampok berLembarLembar tisue sekedar untuk membuatnya sedikit Lebih kering.
Aku jaLani sehari itu dengan biasa saja, yang berbeda adaLah rasa rinduw karena besok aku mau baLek kampong!!! Oops… kaLa sore menjeLang, aku menjadi sedikit worried untuk membawa d’jouw puLang kandang. Dan akhirnya aku putuskan untuk puLang ba’da Maghrib sehingga jaLanan Lebih sepi. ALHAMDULILLAH sampai kost dengan seLamat. Dan aku meminta bantuan temen kost untuk membeLikanku obat oLes penghiLang noda Lebam di kuLit.
Gyaaach… bangun pagi baru terasa badan puegeL semua. Dan beban tas punggungku bertambah berat karena aku membawa oLehoLeh favorit keLuarga. Anyway, puas jugak bisa makan tiap hari jajanan favorit seLama Liburan… ehuehehehe… suwun yaa buat Mumu yang udah mau nganterin pesenanku…. Suwun jugak buat Njendin, Mumu, Mba Risda, Indri, de’ Adhi, Dodo, Bruwang, DodoL, thanks for the attention, paLs! Arigatou jugak buat Jook, Edut, Suher karena udah mbersihin rumah sebagai persiapan kunjungan bohca7. Last, a big thanks for my beLoved Mum, karena pijatan yang tiada tandingnya. Wuackakakakak
d’Jouw said: bengkong Lagiy… bengkong Lagiy…
Tyush said: yaa muaap… ^_^