[2159] – bunxie duwa
PukuL satuw duwa puLuh-siang hari.
KuLewati jaLan terdekat yang kan membawaku ke perantauan, di daLam bus tentunya.Dan tak biasanya jaLan ini diseLimuti kabut tebaL pada jam segini. Ngeri sekaLi memandang ke depan karena kabut menghaLangi pandangan diatas tiyga puLuh meter. Sang driver extra hatihati meLajukan bus daLam kabut tebaL dan jaLan gunung yang berkeLok.
Dingin menyusupi kaki tiap kaLi pintu bus dibuka karena penumpang naik dan penumpang turun. Kabut makin menebaL tatkaLa jaLanan muLai mendaki. Jarang yang berani menyaLip kecuaLi punya nyaLi besar bagai seorang bus driver. Jarak pandang sekarang hanya sepuLuh meter dan bus meLaju santai. Andaikan ada mobiL (apaLagi pLat Luar kota yang asLi Luar kota) menyaLip, kurasa pantas jika kita berteriak: GILAK!!!
Saat bus muLai menukik mengikuti kontur jaLan yang menurun (masih berkeLok tentunya), kabut berangsurangsur tipis. Dan aku Lihat di sebeLah kananku seberkas cahaya yang menyeburat. Dan aku yakin seteLah si kabut puas bermainmain pastiLah sang surya akan muncuL dengan indah. Cahayanya bagai membeLah kabut dan mengusirnya pergi, LaLu ia menarinarikan kiLatan sinarnya ke pucuk dedaunan yang membentang Luas di kaki gunung.
SUBHANALLAH…
Yaa ALLAH… sungguh indah aLam yang Kau Ciptakan. GoLongkanLah aku bersama orangorang yang bersyukur dan memujaMu atas nikmat yang Kau Berikan yang dapat kami nikmati meLaLui pengLihatan kami yang juga Kau Berikan kepada dengan Kasih SayangMu…
