[2139]
Miuw… miuw… miuw…
Berangkat kantor pagipagi, disambut suara indah meLengking nan kesepian. Spontan aku manggiLmanggiL, “Puuus… puuus… dimana kau?”
Miuw… miuw… miuw…
Di tangga Lantai tiyga, kuLihat kucing hitam keciL berbuntut tebaL (kayak anggura, ntah karena bLasteran atau karena ketakutan, semisal dikejar kucing garong penguasa wiLayah Singotoro) Luchu banget. Hitam Legam, mata kuning kehijauan, muLut yang mungiL, pandangan tajam, menatapku Lekat. Duduk di pojok ketakutan, kesepian….
“Cini Puuus, kenapa dicitu? Cinicini….” aku panggiL dia. Oops, Lupak! Dia kan bukan kucing rumah, pantas saja takut denganku. “Puuus… kamu kenapa bica campai citu, cinicini cama aku… jangan takut…” aku mendekat, berniat untuk menyapa dan berkenaLan. “Lho kok maLah Lari naik??? Ayo turun, ayo cini.”
Miuw… miuw… miuw…
Dia menaiki tangga, seakan takut aku akan menyakitinya. SesekaLi berhenti dan menoLeh kepadaku, LaLu naik Lagi hingga memberikan jarak yang (mungkin) dirasanya aman.
Aku beri tau teman, kucing dikaLa takut sama orang, pasti Lari. Nah kurasa kucing keciL imut ini takut kepada sesuatu dan meLarikan diri masuk ke daLam kantor. Karena yang terLihat cuma tangga, yaa dia naik terus, sampai Lantai tiyga. Kasihan benar.
”Eit, cini turun cini Lewat tangga, jangan naik Lagi.” aku mencoba membujuk agar dia turun. Tak berhasiL dan dia masih saja menjerit kesepian bagai memanggiLmanggiL sang induk, ”Miuw… miuw… miuw…”.
Okay, dia takut didekati, maka aku mundur, sambiL terus memanggiLnya supaya dia turun dari tangga yang menuju Lantai empat. Siiip… siasatku berhasiL, dia mau turun. Haduw, aku keburu karena tergoda dengan buLu hitamnya yang indah menawan, aku maju sedikit hingga membuat dia kaget dan sembunyi di bawah kursi. ”Puuus… ayo keLuar cini… ayo kita turun.”
”Miuw…” suaranya mengeciL dan makin tersirat kesedihannya.
Hm… harus segera kukeLuarkan dari kantor niy, gawat kaLo ketemu orang yang jahat dan membenci kucing… pasti diburu dan diusir dengan cara yang kasar (digudakgudak pake sapu misaLnya). Hu… hu… hu… kasihan…. Aku dekati kursinya dari arah yang berLawanan dengan tangga, ini strateginya untuk menggiring kucing keciL yang bingung arah, karena pasti dia akan menjauh dari kita.
O tidak!!! Aku menahan nafas, karena kuLihat dia maLah menuju ke tangga yang naik ke atas, aku panggiL Lagi, ”Sst… sst… Puuus… bukan kecana, turun… turun… Lewat citu…” sambiL aku acungkan jari ke arah tangga turun. Dia memandangku bingung dan meLongokLongok ke tangga turun.
”Aaa… jangan… jangan…!!! Lewat cini… jangan Langsung turun!” aku memekik keciL ketika meLihat dia berancangancang Lompat Langsung ke bawah meLaLui seLaseLa tangga. GiLak ajah, ini Lantai tiyga bo!!!
Hm… kurasa dia mengeri dan mengurungkan niatnya, LaLu perLahan turun meLaLui anak tangga yang aku tunjuk. Di pertengahan dia berhenti, ”Miuw… miuw… miuw…”. Aku makLum, karena dari situ beLum terLihat haLaman, dan dia kesepian Lagi. Wuach, kaLo gini caranya harus digiring peLannpeLan. Aku turun tangga, dia yang meLihat aku turun, meLanjutkan menuruni tangga.
Aku beri tau sekaLi Lagi teman, kaLo kucing Lihat tangga, entah naik atau turun, pasti akan terus saja meLanjutkannya, ntah itu menuju kemana. Namanya jugak kucing. Ehuehehehe…
Sampai di Lantai duwa, dia brenti Lagi, karena memang tangganya berbeLok, dan aku khawatir dia akan Lari ke baLik kursi tamu yang ada disana. Namun nampaknya dia tak tertarik dengan kursi itu. Dari Lantai duwa, bisa dirasakan udara haLaman yang Lebih segar, dan ada pantuLan cahaya sang surya yang memasuki Lorong tangga. Si kucing spontan mau Lompat Langsung. Dan Lagi, aku memekik, ”Eit… bukan dicitu cayang… masih terLaLu tinggi buatmu. Turun Lagi Lewat tangga. Ayo… ayo… bukan Lewat citu.”
”Miuw…”. Kurasa dia mengerti dan memutari besi penyangga pegangan dan berjaLan Lagi meyusuri tangga, sampai ke pertengahan yang berbeLok.
CLing!!! Aku meLihat kepaLanya tegak dan matanya bersinar, karena dari situ pasti terLihat jeLas pintu menuju haLaman Luar. SemiLir angin pagi yang berhembus dan cahaya surya yang sayupsayup menyinari (rada mendung soale).
Aku beri tau teman, saat kucing menemukan atau merasakan atau mendengarkan sesuatu, dia akan menegakkan kepaLanya. Jika tak bisa membayangkan, amatiLah kucingkucing di sekitar anda, anda akan membuktikan perkataanku.
LaLu si kucing mungiL meLuncur menuruni tangga dengan Langkah yang riang, tak Lagi Langkah ketakutan.
Hm… Lega sekaLi meLakukannya, meskipun aku tak bisa mengeLusnya. Bubye kucing manis. Moga kita bisa jumpa Lagi, dan saat itu semoga dirimu sudah mau aku eLus. Nanti kita saLing berkenaLan yaa… LaLu duduk manis disampingku, kibas dan rapikan ekormu, LaLu dengarkanLah ceritaku.
Yaa ALLAH…
Seandainya aku mampu untuk menyentuhnya…
Seandainya aku mampu untuk memeLiharanya…
Seandainya aku mampu untuk berbicara dengannya…
ummu hurairah (ibu e kucing -khususon ila Garfield-… matur nuwon sampun gabung kalian pariti … mugi2 tambah semangat berbekal di dunia untuk di akhirat.
salamdarinanda
Sungguh amal yang luar biasa… Kalo besok lihat kelinci, di pegang yo. Biar besok aku yang pelihara kwekekekek.. Eh yas, kan wonosobo banyak yang ternak kelinci ya.. Ada info yang bisa dibagi ga??
Matur Nuwun